
keyakinan memang sesungguhnya sumber yang paling kuat membuat seseorang tetap berada dalam jalan cita-cita yang dibangunnya, kekurangan diri, kelemahan tim, tantangan eksternal baik dari keluarga, teman ataupun masyarakat, menjadi angin yang mampu merobohkan dan mencabut dari pohonnya besar. maka ketika kita menanam pohon yang harapannya akan menjadi pohon besar yang bisa memberikan kebaikan bagi diri pribadi dan keluarga serta masyarakat, maka dia tidak akan bisa menjadi pohon yang keras dan kuat kalau apalagi bermanfaat jika akarnya hanya akar yang mudah tercabut dan tidak kuat menembuas pori-pori bebatuan yang keras didalam tanah.
kita menanam pohon ditanah yang gersang, susah mengharapkan pohon menjadi besar, tetapi bukan berarti tidak ada peluang menjadi pohon besar yang bermanfaat, maka menanam pohon ditanah seperti ini butuh kesabaran untuk rajin merawatnya tidak hanya secara disiplin untuk menyiramnya tiap pagi dan sore, memberikan pupuk tidak cukup samapi disitu tapi kita juga harus menambah untuk melindunginya dari gangguan-gangguan gulma, bahkan benalu yang coba untuk mengambil zat-zat makannya bahkan persediaan makanan untuk dimusim kemarau untuk diri mereka sendiri sebuah simbiosis parasistisme. bahkan tidak hanya disitu juga kita harus melindunginya dari hewan yang menjadikan pohon itu sebagai makannannya, melindungi hewan butuh energi lebih keras lagi dibandingkan dengan gulma, benalu, karena hewan dia bisa langsung mematikan dalam waktu yg singkat bahkan merusak pagar-pagar yang telah kita buat, dan akhirnya mencabutnya dari akarnya yang masih baru.
mempertahankan cita-cita ibarat kita menanam pohon, butuh akar yang keras, maka kita juga butuh akar keyakinan yang kuat, karena keyakinan inilah dalam perang Tabuk Rasulullah mampu terus bertahan ditengah kekurangan pasukan, tapi satu yang tidak pernah hilang bekal dan akar keimanan yang sangat menghujam kuat bersama aliran darah dan tarikan dan hembusan napas setiap sahabat rasulullah.
keyakinan inilah yang mampu membuat khadijah untuk tetap bersama Rasulullah ketika di boikot oleh Abu jahal, dkk, padahal dia ditawari oleh elit Quraisy untuk tidak bersama rasulullah, begitu pun sahabat yang lain. bahkan karena keimanan lah yang membuat Abu bakar untuk membenarkan perjalanan Rasulullah dari Mekkah-palestina dan sidratul muntaha bertemua allah, para sahabatnya nabi dan rasul sebelumnya, dan kembali lagi ke rumah Ummu hani dalam 1/3 malam, yang pada waktu masyarakat Quraisy itu belum bisa menerima lompatan keajaiban, bahkan samapi sekarang manusia ada yang belum menerima peristiwa besar, sehingga dapat kita lihat dalam sejarah isra mikraj inikaum kafir menggunakannya sebagai senjata untuk merusak integritas rasulullah yang sudah disepakti oleh masyarakat qiraisi yg muslim dan non muslim sebagai orang yg terpercaya, sehingga kita saksikan orang-orang yag sudah bersyahadt/berikarar, bersumpah dan berjanji untuk bertauhid dan meyakini muhammad sebagai rasul ada yg murtad.
cita-cita yang dibangun apalgi sebuah cita-cita kemanusiaan dan peradaban sesungguhnya butuh kesabaran dari para pengusungnya, para pengusung peradaban harus punya keimanan yang kuat, tanpa ini kita tidak mampu mencapai cita-cita yang diinginkan.
tapi sesungguhnya Allah sendiri melalui raasulullah sudah mewanti-wanti bahwa memang keyakinan ini tidak lah akan selalu berada diatas: al imanu yaziidu wala yankus; iaman itu kadang diatas dan pada waktu tertentu akan dibawah seperti sebuah roda, tetapi kemudian Rasulullah pun menambahkan maka perbaiki dengan la ilaha Illallah, bahwa tiada Tuhan selain allah akan kembali menaikkan keimanan itu. keyakinan dan cita-cita yang kita tanam sendiri di tanah yang gersang ditengah gempuran gulma, benalu, hewan, manusia lain tidak akan sanggup, maka menanamlah di kumpulan pohon-pohon yang telah ditanam oleh sebagain orang sehingga akan memudahkan untuk menjaganya ditengah gempuran tersebut.
dan perlu juga kita mengingat, bahwa transformasi rasulullah di tanah arab yang sangat gersang itu, dalam waktu tidak terlalu lama mampu tumbuh pohon-pohon yang kuat yang mampu memberikan sumber nafas bagi peradaban dunia, dan mereka tidak menyangka sepeninggal Rasulullah mereka menikmati dengan sangat cepat, padahal keyakinan para sahabat ganjaran yang mereka inginkan hanyalah surga tak ada yg lain, tapi Allah ternyata allah mempercepat rahmatnya dengan mereka mendapatkan kekauasaan ada yang menjadi kahalifah, gubernur, dan pejabatpejabat lainnya, walaupun para sahabat tidak terlalu ada beda antara ketika mereka bersusah payah dalam era perang fisik dan hantaman kaum yang memusuhi dakwahnya dan ketika mereka sudah menjadi penguasa, mereka tetaplah hidup sederhana, penyanyang kepada sesama.


0 komentar: on "keyakinan dan cita-Cita"
Posting Komentar