,

Jl. Wachid Hasyim, samarinda, HP: 081350782911
Email: gun_fis01@yahoo.com

,

“BELAJAR MENULIS”

Selasa, 20 Juli 2010

Notulensi; Seminar Sehari


Tema: dalam rangka Hari ANAK NASIONAL
"KONSTRUKSI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA MENUJU KALTIM BANGKIT 2013"

PEMBICARA :

  • Drs. Andrias P. Sirendean, MM (Wk.Ketua Komisi IV DPRD Kaltim dan Ketua Pansus Perda Pendidikan Pemprov kaltim)
  • Prof. Dr. Rahmat Soe'ed (Dosen Pasca Sarjana Pendidikan Univ.Mulawarman)

pembicara pertama, berbicara tentang akomodasi dari pendidikan karakter dalam hal ini pendidikan agama dan keagamaan dalam perda tersebut, yang akan mendapat alokasi anggaran 20% dari 20% setiap anggaran pendidikan dalam APBD. Termasuk penambahan jam pelajaran agama dari 2 jam menjadi 4 jam pelajaran
pembicara ke dua, dengan makalah Critical thinking disposition, sebuah alternatif untuk pendidikan karakter anak bangsa.
di awali dengan sebuah hadits'

“janganlah kamu menjadi seperti seorang perempuan yang menenun kainnya dengan rapi. namun kemudian satu persatu dia urai kembali tenunan yang sudah rapi tersebut.”quran suci 16 : 92, ini menggambarkan bahwa pendidikan harus holistik dan terintegrasi dan terpadu, tidak bisa satu sisi memperbaiki dan sisi yang lain merusak

" seorang anak dilahirkan dalam keadaan suci, orang tuanya lah yang menjadikan dia yahudi, majusi dan nshara" hadits ini menggambarkan bahwa seorang anak/siswa pada hakikatnya adalah suci, mempunyai karakter, budaya yang baik, tapi lingkungan, sekolah termasuk guru yang menjadikan karakter-karakter unggul itu tereliminasi digantikan oleh karakter-karakter lain.
contoh sikap guru yg bisa merusak karakter siswa adalah perkataan kamu bodoh, ini akan merusak paradigma siswa, yg akan berakhir rusaknya karakter, tidak sebagaimana guru di malaysia mereka mengatakan pada siswa yang belum bisa' kamu adalah mutiara-mutiara bangsa".
guru kedudukannya sangat penting dalam membentuk karakter siswa karena" guru adalah cermin tempat murid bercermin" (prof baradja, IKIP Malang), ini mengandung arti karakter siswa akan mencontoh karakter gurunya, jika guru tidak punya integritas, tidak disiplin, tidak mengharagai, tidak menghormati, tidak mendengar siswanya, maka yakinlah siswa akan kurang lebih dengan sikap guru, ini sama dengan pepatah yang sering kita dengar guru kencing berdiri, muris akan kencing berlari". kalau guru tidak disiplin, maka siswa akan lebih tidak disiplin, begitu lah guru, ibarat lilin besar yang akan menyinara lilin-lilin kecil disekitarnya.
hari ini karakter pemimpin (pejabat) bangsa ini telah rusak, kerusakan ini disesebabkan oleh dua hal menurut salah satu hadits." dua hal yang mengahncurkan umatku meninggalkan (kualitas) ilmu dan rakus terhadap harta." hadits ini menggambarkan kualitas ilmu yang menyangkut kualitas cara mengajarkan, belajar dalam hal ini proses yang salah/rusak maka output dan outcome nya akan rusak juga, walaupun input dari pendidikan itu dalam hal ini siswa adalah fitarah (berkarakter).
mungkin ada pertanyaan untuk kita (guru) sudah kah siswa mengatakan kepada kita" i Love so much" atau malah sebaliknya saya benci dia, sehingga persepsi ini lah mengapa siswa sangat susah menerima pelajaran kita, karena proses belajar-mengajar tertanam rasa benci, rasa benci akan menjadi hijab/pembatas antara kita (ilmu) dan siswa.
seorang guru tidak hanya menjadikan nilai, karakter sebagai sebuah ceramahan dalam kelas, tetapi harus menjadi budaya, bahkan menjadi budaya sekolah, dan ini bukan hanya tanggung jawab guru agama tetapi semua guru, jangan samapi guru agama mengajarkan keimanan, ketqwaan, akhlaq, tetapi ketika guru olahraga, atau lainnya masuk tetapi merusak akhlak, sehingga pada siswa akan terjadi kepribadian ganda; siapa yang akan diikuti guru agama kah atau kah guru olahraga, sehingga siswa dalam sistuasi tertentu akan seolah-olah baik, tapi ditempat dan waktu yang lain akan mempunya kelakuan yang tidak baik. maka seorang guru harus membudayakan nilai sebagai etika kerja. penanaman ini dengan critical thinking disposition.
critical thinking disposition, mencakup:

  • Jujur pada diri mereka sendiri dan mau mengakui apa yang mereka tidak tahu;
  • Berlapang dada dan mau mendengarkan pandangan orang lain sekalipun bertentangan dengan pandangan yang mereka miliki;
  • Mau menerima kritik orang lain dengan senang hati;
  • Menggunakan sumber-sumber informasi yang terpercaya.
  • Bersedia merubah pendirian atau pandangan jika dihadapkan dengan bukti dan alasan yang cukup

tapi metode ini akan mendapatkan hamabatan:

  • Penyesuaian dengan disiplin dan silabus mata pelajaran. Beberapa mata pelajaran yang lebih menekankan keakuratan dan tidak berkaitan dengan sosial.
  • Tuntutan silabus yang terlalu padat. Guru kejar paket, sehingga tidak punya kesempatan menerapkan nilai hidup ke dalam jiwa murid
  • Sistem pendidikan yang berorientasi pada ujian, seperti ujian nasional ,dll


Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "Notulensi; Seminar Sehari"

Posting Komentar